Myna – Nuendo di Browser Kamu
PreSonus Studio One, a Test Drive

Beberapa hari yang lalu, versi demo dari software digital audio workstation PreSonus Studio One resmi dirilis. Saya langsung mendownload dan mencoba demo yang berlaku selama 30 hari dan tanpa fasilitas saving dan export audio ini. Saya nyobain yang Mac, tapi saya rasa versi Windows-nya akan sangat mirip.
Pertama kali dibuka, Studio One akan men-scan semua hardware dan software yang berhubungan dengannya; misalnya soundcard, keyboard controller, effect dan instrument. Agak lama, tapi dia hanya akan melakukan ini sekali saat dia pertama kali dibuka dan jika ada instalasi hardware/software baru saja.
Saat mencoba fitur drag and drop instrument yang memang sudah saya tunggu-tunggu, saya sedikit mengalami masalah. Saya coba “narik” instrument dari browser yang ada dilayar sebelah kanan ke dalam track view. Memang instrument langsung kebuka, aktif dan bunyi jika piano roll didalam instrument diklik dengan mouse, tapi keyboard controller belum berfungsi, padahal jelas sudah ada komunikasi antara Studio One dengan keyboard controller.
Rupanya ada satu settingan kecil yang harus kita lakukan agar setelah instrument “ditarik”, keyboard controller kita langsung berfungsi:
Pergi ke Preferences > External Devices > double-click gambar Keyboard Controller > centang “Default Instrument Input”
Hasilnya, saya bener-bener terpuaskan dengan fitur andalan Studio One ini: drag and drop and record, sesuatu yang bahkan pada (versi terbaru) Yamaha Cubase 5 pun minimal masih mengharuskan kita meng-klik minimal 5 kali.
Links:
Download Studio One demo (perlu registrasi gratis)
Forum resmi Studio One
Ipang Vs Bije

Ipang
Awalnya saya bangga dibilang suara saya mirip Ipang.
Tapi lama-lama ngeselin juga, udah keseringan.
Nggak cuma temen-temen penikmat musik yang bilang gitu, beberapa anak band juga. Yang paling parah adalah saat temen ngeband Ipang sendiri, Bongki, bilang gitu juga ![]()
Kadang saya membela diri dengan mengatakan bahwa ini mungkin karena kami kebetulan sama-sama dapet influence dari Eddie Vedder. Tapi ya gitu deh, pembelaan itu nggak pernah cukup.
Saya hampir menyerah hingga akhirnya datanglah kesempatan untuk membalikkan itu semua; Ipang jadi (well, kurang lebih) mirip saya, bukan saya yang mirip dia
Ceritanya dimulai saat saya terima telpon dari sebuah agency iklan untuk bikin lagu yang akan dinyanyikan oleh Ipang, dan inilah pelarian terbaik saya tentang masalah itu sejauh ini
:
Selamat Jalan, Nicko Nigger..

Requiescat in pace
Nicolaus Josef Arditobrono
26 Mei 1975 - 25 Juli 2009
Sabtu malem, 25 Juli 2009, saya menerima kabar bahwa temen lama saya, Nicko Nigger (Nicolaus Josef Arditobrono) meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Jogja. Usianya masih relatif muda, Nicko meninggal hanya selang dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke-34.
Nicko adalah putra dari komponis (almarhum) Bapak FX Soetopo. Semasa hidupnya, Nicko pernah menjadi gitaris band Power Slaves.
Saya pertama kali bertemu dengannya sekitar tahun 1996 di sebuah studio latihan di kawasan Mampang.
Setelah era nongkrong di studio lewat, saya kadang masih main kerumahnya, yang juga jadi tempat nongkrong.
Kami nggak pernah benar-benar ngeband bareng, tapi kami pernah punya satu rencana untuk bikin. Saat saling memperdengarkan lagu kami masing-masing itulah saya baru tau bahwa suaranya juga bagus.
Anaknya bener-bener idealis, total rock ‘n roll.
Lihat apa yang dikatakannya saat saya mulai main Top 40 di sekitar tahun 1998. Dia dengan ringan nyeletuk ngeselin; “mending pindah agama”
Saya sempet punya balasan cemen atas itu.
Satu malam, lewat jam 12 sih, saya pulang nyanyi dan kerumahnya lalu mendapati dia dan anak-anak lain udah tidur, saya langsung pergi dan ninggalin tulisan gede-gede; “What kind of rock ‘n roll people are you guys? The night is still this young!” Hehe.. cemen kan? Nggak sebanding dengan hook-nya yang telak.
Tapi diatas ledek-ledekan nggak mutu itu, saya tetap menaruh hormat pada Nicko, musiknya, berikut idealismenya.
Dan dibawah ini adalah rekaman video saat Nicko sedang latihan, disini dia menunjukkan dua kehebatannya sekaligus; main gitar dan nyanyi:
Rest in peace, Nicolaus.
Thanks to:
Vivie untuk info dan koreksinya.
Andry untuk fotonya.
- Jatuh
- I Like It Like That
- Laba-laba
- Only 4 U
- Superman
- Why Should I
- Tak Tau Yang Kumau
- Thruwitu
- Accept and Hurt (Acoustic)
- Come to Stay
- RIP
- Damn
- Aku Pergi
- Bukan Video Game
- Sesuatu Tentangmu
- Hanya Ingin
- Sesuatu Tentangmu (Video by Supray Debray Lebay)
- Aku Pergi (Video dari Supray Debray Lebay)
- Supergroove – Sitting Inside My Head
- Berkumurlah Dahulu Sebelum Panggil Ambulan
- Myna – Nuendo di Browser Kamu
- Ninaboboin Baby a la Geek
- PreSonus Studio One, a Test Drive
- Ipang Vs Bije
- Selamat Jalan, Nicko Nigger..
- Google is a BIG Internet Candid Camera
-
- theBIJE: Siap Gan!
- theBIJE: Sebelum masuk ke soundcard, mic harus masuk ke preamp dulu biar signalnya cukup kuat. Jika tanpa preamp,...
- budel: maen maen bro thebije kerumah ane : http://kask.us/900307 - Geng Fruity Loops Indonesia -
- benkz: maaf mas, bakal sering nanya neh. hehehe maklum masih amatirann.hehehe gini mas, aku dari mic, cuma pake...
- theBIJE: Lewat preamp gak sebelum masuk soundcard? Kalo nggak, saat level inputnya dinaikkin untuk dapetin signal...











