Mengenal Linux
31 Jan 2009 4 Comments
Category: Making Music
UPDATE: Dengan menyesal saya harus katakan bahwa kesimpulan akhir saya setelah mencoba beberapa aplikasi audio di Linux adalah: belum ada yang cukup bisa diandalkan untuk memproduksi musik dari awal (creating, recording) hingga akhir (mastering). Sebagai contoh misalnya Hydrogen yang meniru fungsi dan tampilan FruityLoops di Windows. Hydrogen versi terakhir yang saya coba baru mampu mendekati FruityLoops generasi awal, yang rilisnya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Juga Rosegarden, seperti Hydrogen, dia juga terlambat lebih dari 10 tahun dibanding software sejenis di Mac atau Windows. Sedikit pengecualian mungkin Ardour, tapi saya pribadi tidak tertarik sebab buat saya akan sangat tidak aman hanya mengandalkan satu aplikasi saja, apalagi dengan masih memiliki kekurangan disana-sini, bahkan diantaranya adalah fungsi-fungsi dasar. Lagipula Ardour juga tersedia di Mac OS kalopun saya ingin untuk sekedar mencobanya. Klik ini untuk konfigurasi komputer terbaik untuk membuat musik

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya benar-benar bersentuhan dengan Linux. Memang sekitar setahun yang lalu saya pernah mencobanya, tapi sangat sebentar, jadi bisa dibilang saya belum menyentuhnya saat itu.
Seperti kita tau, Linux adalah Operating System semacam Windows tapi gratis dan opensource. Kita bebas menggunakannya tanpa rasa bersalah, dan kode-kode programnya juga dibuka untuk umum hingga jika berminat, siapa saja bisa ikut mengembangkannya.
Salah satu contoh software opensource yang paling populer adalah Firefox, sebuah browser yang karena keterbukaan kode-kodenya dan kebaikan orang-orang yang mengembangkan, telah membuat kita bisa menikmati fitur-fitur yang “lebih dari sekedar browser”. Jika belum, silahkan pergi kesini untuk menikmati fungsi-fungsi yang bisa ditambahkan ke Firefox yang akan membantu kita dalam mendownload hampir apa saja dari internet.
Kembali ke Linux..
Awalnya saya berkenalan dengan Imron Fauzi (Roim) dari AirPutih via email, saya katakan padanya bahwa saya adalah musisi yang sudah membagi musik saya secara free dan juga akan membaginya dalam bentuk musik opensource. Saya juga bilang bahwa saya tertarik untuk belajar aplikasi opensource Linux untuk audio recording.
Dia kemudian mengundang saya untuk datang ke kantornya, dan setelah ngobrol sedikit, lalu mulailah saya mencoba Linux, tentu dengan bimbingan Roim dan teman-teman disana.

Klik untuk memperbesar
Sesuatu yang paling berkesan pada saat pertama saya mencoba Linux adalah fasilitas “Add-Remove Program”-nya. Karena Linux berbasis opensource, maka kita bebas menambahkan software apa saja, dan itu semua itu bisa dilakukan secara online! Bisa dibayangkan akan ada begitu banyak software yang bisa kita install, dan sekali lagi gratis.
Prosesnyapun sangat simple, kita tinggal search nama software-nya, tunggu sebentar hingga Linux menemukannya, dan install dengan satu dua klik sederhana. Menurut saya cara ini lebih simple daripada “Add-Remove Program”-nya Windows (XP).
Berhubung paket Ubuntu Studio yang berisi software-software audio yang rencananya akan saya gunakan untuk belajar belum tersedia, maka saya menggunakan Ubuntu (saja, tanpa “Studio”), dan pada hari pertama itu saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menginstall software-software Linux untuk rekaman musik.

Klik untuk memperbesar
Beberapa yang saya install adalah Ardour (semacam SONAR atau Nuendo di Windows), Hydrogen (FruityLoops), dan Rosegarden (SONAR, Nuendo).
Saya langsung mencoba software yang saya install. Saya akan bercerita tentang itu dalam tulisan selanjutnya.
Out of Topic: Saya menaruh hormat sepenuhnya pada para developer aplikasi opensource yang bekerja melulu karena kecintaan mereka pada apa yang mereka lakukan, dan bukan karena uang. Tapi jika itu hanya akan menghasilkan karya yang belum bisa setara dengan “production quality”, saya pikir mereka sebaiknya berusaha mendatangkan sumber income sebab mereka memang pantas mendapatkannya, diluar sistem donasi yang selama ini umum mereka pakai, sistem yang sepertinya tidak cukup untuk mengganti semua waktu dan energi mereka (sering saya baca seorang developer yang menjelaskan bahwa dia hanya melakukannya karena hobby maka jangan harap akan sempurna bla bla bla…). Firefox, sekali lagi, adalah contoh supersukses dari sebuah platform opensource. Win-win-win; kita gratis menggunakannya, Firefox dapet uang dari Google sebagai default search engine-nya, Google mendapatkan trafik dari itu yang pada gilirannya juga akan mereka konversi sebagai income untuk Google sendiri.
4 Comments (+add yours?)
Leave a Reply
RSS


Feb 14, 2009 @ 14:56:35
Haduuuh, saya ndak ngerti linux. Pengen nyobain tapi belum ada waktu buat uprek2
Ditunggu ulasannya test software2 buat music recordingnya 
Feb 14, 2009 @ 21:27:09
Makasih perhatiannya Mas Goen.
Saya juga belum sempet ngoprek lagi.
Tapi ini asik banget, jadi Insya’Allah saya akan terusin.
Jun 02, 2010 @ 22:46:31
setelah baca tulisan yang dikotak item diatas, mata gw langsung kicer baca tulisan yang lain, haha.
Jun 03, 2010 @ 17:54:17
OK, lain kali gue pake latar ijo dan tulisan orange