Mengenal Linux

UPDATE: Dengan menyesal saya harus katakan bahwa kesimpulan akhir saya setelah mencoba beberapa aplikasi audio di Linux adalah: belum ada yang cukup bisa diandalkan untuk memproduksi musik dari awal (creating, recording) hingga akhir (mastering). Sebagai contoh misalnya Hydrogen yang meniru fungsi dan tampilan FruityLoops di Windows. Hydrogen versi terakhir yang saya coba baru mampu mendekati FruityLoops generasi awal, yang rilisnya sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Juga Rosegarden, seperti Hydrogen, dia juga terlambat lebih dari 10 tahun dibanding software sejenis di Mac atau Windows. Sedikit pengecualian mungkin Ardour, tapi saya pribadi tidak tertarik sebab buat saya akan sangat tidak aman hanya mengandalkan satu aplikasi saja, apalagi dengan masih memiliki kekurangan disana-sini, bahkan diantaranya adalah fungsi-fungsi dasar. Lagipula Ardour juga tersedia di Mac OS kalopun saya ingin untuk sekedar mencobanya. Klik ini untuk konfigurasi komputer terbaik untuk membuat musik

Linux

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya benar-benar bersentuhan dengan Linux. Memang sekitar setahun yang lalu saya pernah mencobanya, tapi sangat sebentar, jadi bisa dibilang saya belum menyentuhnya saat itu.

Seperti kita tau, Linux adalah Operating System semacam Windows tapi gratis dan opensource. Kita bebas menggunakannya tanpa rasa bersalah, dan kode-kode programnya juga dibuka untuk umum hingga jika berminat, siapa saja bisa ikut mengembangkannya.

Salah satu contoh software opensource yang paling populer adalah Firefox, sebuah browser yang karena keterbukaan kode-kodenya dan kebaikan orang-orang yang mengembangkan, telah membuat kita bisa menikmati fitur-fitur yang “lebih dari sekedar browser”. Jika belum, silahkan pergi kesini untuk menikmati fungsi-fungsi yang bisa ditambahkan ke Firefox yang akan membantu kita dalam mendownload hampir apa saja dari internet.

Kembali ke Linux..

Awalnya saya berkenalan dengan Imron Fauzi (Roim) dari AirPutih via email, saya katakan padanya bahwa saya adalah musisi yang sudah membagi musik saya secara free dan juga akan membaginya dalam bentuk musik opensource. Saya juga bilang bahwa saya tertarik untuk belajar aplikasi opensource Linux untuk audio recording.

Dia kemudian mengundang saya untuk datang ke kantornya, dan setelah ngobrol sedikit, lalu mulailah saya mencoba Linux, tentu dengan bimbingan Roim dan teman-teman disana.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar

Sesuatu yang paling berkesan pada saat pertama saya mencoba Linux adalah fasilitas “Add-Remove Program”-nya. Karena Linux berbasis opensource, maka kita bebas menambahkan software apa saja, dan itu semua itu bisa dilakukan secara online! Bisa dibayangkan akan ada begitu banyak software yang bisa kita install, dan sekali lagi gratis.

Prosesnyapun sangat simple, kita tinggal search nama software-nya, tunggu sebentar hingga Linux menemukannya, dan install dengan satu dua klik sederhana. Menurut saya cara ini lebih simple daripada “Add-Remove Program”-nya Windows (XP).

Berhubung paket Ubuntu Studio yang berisi software-software audio yang rencananya akan saya gunakan untuk belajar belum tersedia, maka saya menggunakan Ubuntu (saja, tanpa “Studio”), dan pada hari pertama itu saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menginstall software-software Linux untuk rekaman musik.

Klik untuk memperbesar.

Klik untuk memperbesar

Beberapa yang saya install adalah Ardour (semacam SONAR atau Nuendo di Windows), Hydrogen (FruityLoops), dan Rosegarden (SONAR, Nuendo).

Saya langsung mencoba software yang saya install. Saya akan bercerita tentang itu dalam tulisan selanjutnya.

Out of Topic: Saya menaruh hormat sepenuhnya pada para developer aplikasi opensource yang bekerja melulu karena kecintaan mereka pada apa yang mereka lakukan, dan bukan karena uang. Tapi jika itu hanya akan menghasilkan karya yang belum bisa setara dengan “production quality”, saya pikir mereka sebaiknya berusaha mendatangkan sumber income sebab mereka memang pantas mendapatkannya, diluar sistem donasi yang selama ini umum mereka pakai, sistem yang sepertinya tidak cukup untuk mengganti semua waktu dan energi mereka (sering saya baca seorang developer yang menjelaskan bahwa dia hanya melakukannya karena hobby maka jangan harap akan sempurna bla bla bla…). Firefox, sekali lagi, adalah contoh supersukses dari sebuah platform opensource. Win-win-win; kita gratis menggunakannya, Firefox dapet uang dari Google sebagai default search engine-nya, Google mendapatkan trafik dari itu yang pada gilirannya juga akan mereka konversi sebagai income untuk Google sendiri.

Polok Kodok

Fergie - London Bridge Single

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Embuh wis ping piro to coba
Nyerang aku kaya du bala
Ra jelas apa masalahmu
Tapi sing pasti dadi lucu

Jarene sak tim tapi kok malah nggriseni
Blas ra medeni rasane mung dadi keri
Ngagetke ngerti kwalitasmu mung semono
Digadang-gadang malah mletho

CHORUS:
Mung tekan polok
Tur polok kodok
Mung tekan polok, banjirmu ra marai kelelep
Tur polok kodok, tak nggo keceh wae ra genep

Banjir, yen diumpamake banjir..

Music, arranged, performed & produced by Bije
Lyrics by Ponco Seto, MS “Koko” Handoko & Bije
Recorded at Studio Warna.

© 2009 Ponco Seto Music, MS Handoko Music, Harry Hapsoro Agung Wibowo. All Rights Reserved.

Behind the Scene:

Lagu ini saya bikin tahun 2004 dan saya rekam tahun itu juga. Belum semua bagian lagunya terekam, masih banyak kerjaan untuk menyelesaikannya.

“Polok Kodok” adalah lagu berbahasa Jawa kedua yang saya tulis. Yang pertama judulnya “Aku Kudu Piye”, malah belum sempet direkam sama sekali.

Ada menariknya nulis lirik dalam bahasa Jawa. Saya menemukan banyak kata dengan satu suku kata disini, atau kata dengan dua suku kata yang bisa disingkat menjadi satu saja. Misalnya (u)wis, ping, to, (du)du, (o)ra dan seterusnya. Ini membuat kerjaan ngepas-ngepasin kata kedalam lagu menjadi lebih mudah.

Lagu ini memiliki kemiripan dengan single “London Bridge“-nya Fergie di bagian verse, tapi lagu ini saya tulis lebih dulu dari lagu itu. Jadi, Fergie dulu masuk kamar saya, lalu yang ter-influence sama saya ;)

Jason Mraz di Java Jazz 2009

Jason Mraz akan perform di Java Jazz 2009

Jason Mraz akan perform di Java Jazz 2009

Kemaren seorang teman ngasih tau bahwa Jason Mraz akan main di Java Jazz 2009, tepatnya di hari pertama.

Wow, tentu saja saya tidak akan melewatkan ini.

Saya mengikuti perjalanan musik Jason sejak hit pertamanya yang fenomenal itu; “The Remedy (I Won’t Worry)”.

Tidak hanya karena saya juga suka nyanyi rapet (semacam rap yang dinyanyiin), tapi juga karena kekaguman saya pada kehebatannya dalam bikin lagu.

Pada “The Remedy (I Won’t Worry)” yang melibatkan The Matrix (yang juga pernah memberi sentuhan sihirnya di “I’m with You”-nya Avril Lavigne) sebagai co-writer itu, Jason dengan sangat sempurna melakukan akrobat yang rapet-rapet dari verse (Well I saw fireworks from the freeway..) hingga prechorus (the remedy is the experience..) tapi juga menyisakan bagian yang pop, mudah diingat dan mudah dinyanyikan di chorus (I.. I won’t worry my life away..) dan bridge (when I fall in love..).

OK, chorusnya memang agak terkesan cemen (mungkin ini salah satu sebab kenapa Jason hampir selalu memodif bagian itu kalo bawain live). Tapi saya rasa justru ini yang membuat bagian yang asik terdengar lebih asik. Apapun itu, buat saya ini tetap lagu sakti.

Tapi lagu ini bukan lagu yang paling saya tunggu di Java Jazz nanti, saya lebih nunggu dia bawain “Mr. Curiosity“, terutama bagian “solo opera” yang supercool itu.

Mau nonton juga? Silahkan mulai latian biar bisa nodong Jason untuk nyanyi bareng seperti mereka ini :)