Saya bukan web designer, saya nggak tau bahasa pemrograman. Saya hanya anak band yang pengen punya website sendiri supaya saya bisa pasang lagu, lirik dan nulis hal-hal yang terkait dengan musik saya. Ok, semua itu memang bisa saya lakukan di MySpace, Project Opus, iSound dan masih banyak lagi yang lain, tapi saya juga ingin punya website sendiri yang bisa saya permak semau saya. Oya, saya punya “pengalaman” ngutak-atik layout MySpace dan Friendster kalo itu bisa berguna disini. Masuk akal nggak keinginan saya?
Masuk akal. Saya juga berada disitu saat ingin membuat thebije.com. Berikut ini adalah langkah-langkah yang saya lakukan;
1. Memilih CMS

Pertama saya pilih dulu CMS (Content Management System; sistem untuk mengelola isi website). Dari sekian banyak CMS gratis, saya pilih WordPress karena alasan yang dangkal; tampilan.
Ya, dibanding Joomla, Drupal, Textpattern dan lainnya WordPress menyediakan theme yang lebih banyak. Silahkan googling “wordpress theme” dan Anda akan menemukan ratusan theme WordPress yang siap pakai dan tampak profesional. WordPress sebenarnya sistem untuk pengelolaan blog, maka akan ada beberapa keterbatasan misalnya static page yang nggak searchable (WordPress mengenal 2 istilah untuk jenis content; post & page. Post untuk blog dan page untuk halaman statis seperti bagian “about us” atau “contact us”, sesuatu yang kita tidak perlu update setiap waktu). Tapi saya nggak keberatan dengan hal ini, justru saya bikin hampir semua halaman di website saya sebagai blog. Keuntungannya selain secara default blog searchable, juga dimungkinkan untuk nulis komentar disitu. Karena saya pengen website yang se-interaktif mungkin, artinya orang bisa merespon dengan nulis komentar di sembarang tempat, maka limitasi ini justru jadi solusi bagi saya.
Untuk kenalan dengan interface dan istilah-istilah yang digunakan, silahkan bikin blog plus hosting file gratis yang tersedia dalam satu atap di WordPress.
2. Memilih Theme

Untuk memenuhi naluri kedangkalan saya, saya memilih theme fourWPTP karena beberapa alasan; secara default theme ini tampak profesional, logonya berupa image yang bisa diedit, ada link untuk navigasi dibagian header, dan bonusnya ada tempat untuk clickable banner di header! Cool.
3. Software untuk Offline Editing

Saya menggunakan XAMPP untuk melakukan editing secara offline. Agar saya tidak harus konek ke internet setiap saya merancang tampilan atau menulis draft posting. Selain ngirit (saya harus ke warnet untuk internet-an) saya juga nggak akan membiarkan pengunjung website saya kaget-kaget dengan perubahan-perubahan tampilan saat mereka berkunjung dimana pada saat yang sama saya sedang ngutak-atik theme.
4. Memilih Web Hosting
![]()
Saya berlangganan di IDwebhost karena kebetulan kemaren saya ingin mengaktifkan website saat libur Lebaran dan dari beberapa layanan web hosting yang saya hubungi, IDwebhost adalah satu-satunya web hosting yang waktu itu menanggapi pesan yang saya kirim via YM. Murah (kurang dari 150 ribu perak per tahun) dan aktifasinya cepat (hanya makan waktu kurang lebih 15 menit setelah transfer beaya langganan, website sudah aktif). Setelah berlanggananpun saya nyaman dengan mereka sebab hampir semua staff Customer Care-nya responsif dan sangat membantu. Lewat IDwebhost juga saya mendaftarkan nama domain saya.
5. Menentukan Status Hak Cipta

Jika Anda berencana untuk mendistribusikan album Anda seperti saya (free & opensource), Anda harus menentukan dulu status lisensinya di Creative Commons. (Jika tidak, Anda bisa skip langkah ini dan langkah 6).
Dari komik diatas bisa kita lihat bahwa singkatnya Creative Commons adalah badan yang menyediakan beberapa jenis lisensi yang menjembatani antara antara Full Copyright /All Rights Reserved (Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-undang) hingga Public Domain / No Rights Reserved (Tidak Ada Hak Cipta yang Dilindungi Undang-undang). Hasilnya adalah Some Rights Reserved (Sebagian Hak Cipta Dilindungi Undang-undang). Hal bagus yang bisa didapat dari sini adalah bahwa kita tetap memegang hak cipta atas karya kita tapi juga memungkinkan orang lain untuk melakukan beberapa hal atas karya itu. Untuk lagu-lagu Bije, saya menyebarkannya secara gratis dan memungkinkan siapa saja untuk melakukan aransemen ulang termasuk penggantian vokal dengan syarat non-komersial dan tetap menyebutkan nama-nama pemegang hak cipta. Untuk itu saya menggunakan lisensi Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported.
6. Memilih Audio Hosting

Saya pilih Internet Archive karena alasan-alasan yang bisa Anda baca disini plus ternyata mp3 yang kita download dari sana masih menyertakan ID tag berikut artworks kita.
7. Memilih Player untuk Audio File
Saya pake audio player dari 1 Pixel Out ini karena tampilannya (dangkal lagi, asik). Pewarnaannya bisa dirubah sesuai dengan pewarnaan website kita dan settingnya nggak ribet.
Udah, cuma segitu yang kita perlu lakukan untuk punya website sendiri. Selama proses itu saya menyarankan penggunaan Firefox - browser terhebat sepanjang masa - untuk online maupun offline browsing, coklat untuk ketenangan dan air putih untuk kesehatan.
Jika perlu acuan untuk offline editing, silahkan klik ini.
Thanks to Eva untuk koreksinya.






















kreatif juga idenya bos! gw juga baru ngerancang website buat para promo musisi independen.. pleasure to visit www.bandmusik.com =)