39 iklan-cetak lucu lainnya ada disini.
Berkumurlah Dahulu Sebelum Panggil Ambulan
PreSonus Studio One, a Test Drive

Beberapa hari yang lalu, versi demo dari software digital audio workstation PreSonus Studio One resmi dirilis. Saya langsung mendownload dan mencoba demo yang berlaku selama 30 hari dan tanpa fasilitas saving dan export audio ini. Saya nyobain yang Mac, tapi saya rasa versi Windows-nya akan sangat mirip.
Pertama kali dibuka, Studio One akan men-scan semua hardware dan software yang berhubungan dengannya; misalnya soundcard, keyboard controller, effect dan instrument. Agak lama, tapi dia hanya akan melakukan ini sekali saat dia pertama kali dibuka dan jika ada instalasi hardware/software baru saja.
Saat mencoba fitur drag and drop instrument yang memang sudah saya tunggu-tunggu, saya sedikit mengalami masalah. Saya coba “narik” instrument dari browser yang ada dilayar sebelah kanan ke dalam track view. Memang instrument langsung kebuka, aktif dan bunyi jika piano roll didalam instrument diklik dengan mouse, tapi keyboard controller belum berfungsi, padahal jelas sudah ada komunikasi antara Studio One dengan keyboard controller.
Rupanya ada satu settingan kecil yang harus kita lakukan agar setelah instrument “ditarik”, keyboard controller kita langsung berfungsi:
Pergi ke Preferences > External Devices > double-click gambar Keyboard Controller > centang “Default Instrument Input”
Hasilnya, saya bener-bener terpuaskan dengan fitur andalan Studio One ini: drag and drop and record, sesuatu yang bahkan pada (versi terbaru) Yamaha Cubase 5 pun minimal masih mengharuskan kita meng-klik minimal 5 kali.
Links:
Download Studio One demo (perlu registrasi gratis)
Forum resmi Studio One
Ipang Vs Bije

Ipang
Awalnya saya bangga dibilang suara saya mirip Ipang.
Tapi lama-lama ngeselin juga, udah keseringan.
Nggak cuma temen-temen penikmat musik yang bilang gitu, beberapa anak band juga. Yang paling parah adalah saat temen ngeband Ipang sendiri, Bongki, bilang gitu juga ![]()
Kadang saya membela diri dengan mengatakan bahwa ini mungkin karena kami kebetulan sama-sama dapet influence dari Eddie Vedder. Tapi ya gitu deh, pembelaan itu nggak pernah cukup.
Saya hampir menyerah hingga akhirnya datanglah kesempatan untuk membalikkan itu semua; Ipang jadi (well, kurang lebih) mirip saya, bukan saya yang mirip dia
Ceritanya dimulai saat saya terima telpon dari sebuah agency iklan untuk bikin lagu yang akan dinyanyikan oleh Ipang, dan inilah pelarian terbaik saya tentang masalah itu sejauh ini
:
- Jatuh
- I Like It Like That
- Laba-laba
- Only 4 U
- Superman
- Why Should I
- Tak Tau Yang Kumau
- Thruwitu
- Accept and Hurt (Acoustic)
- Come to Stay
- RIP
- Damn
- Aku Pergi
- Bukan Video Game
- Sesuatu Tentangmu
- Berkumurlah Dahulu Sebelum Panggil Ambulan
- Myna – Nuendo di Browser Kamu
- Ninaboboin Baby a la Geek
- PreSonus Studio One, a Test Drive
- Ipang Vs Bije
- Selamat Jalan, Nicko Nigger..
- Google is a BIG Internet Candid Camera
- Video Bagus Banget dari Playing for Change
- FloorPlanner.com – Merancang Rumah Gratis
- Willie Nelson – Always on My Mind
- Chris “The Glove” Taylor feat. Ice T – Reckless
-
- theBIJE: Hehe… Kalo aku sih kebetulan tipe yang perekam segala, apapun ide yang ada didokumenkan dulu. Per...
- theBIJE: Eh.. Supray, prikitiew juga (rock)
- theBIJE: Begenk, thanks untuk sharingnya disini. Aku rasa, semua orang yang mengenal Nicko pasti akan merasakan...
- cat "ariyanto" byte: Udah pernah direkam, tapi kadang ganti mood ganti tema, lupa pula tu lagu yang mana (music)...
- supray: prikitiewwwwwwwwwwwwwwww (applause)












